Museum Balaputra Dewa Dapat Hibah Pedang Pusaka dari Warga Lubuklinggau

PALEMBANG, PE – Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan Balaputra Dewa mendapatkan hibah pedang pusaka dari warga Lubuklinggau, yang belum diketahui identitasnya, Jumat (12/6). Benda pusaka tersebut dikirim lewat travel, dan ditujukan untuk Kepala UPTD Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa Chandra Amprayadi.

“Tadi ada orang temui satpam minta bertemu saya, untuk memberikan titipan dari Lubuklinggau. Masuklah ke ruangan saya dengan menyerahkan pedang pusaka ini,” kata Chandra dihubungi, Jumat (12/6).

Dikatakan dia, pedang yang saat diserahkan dibungkus dengan kain putih, milik seseorang dari Lubuklinggau, yang belum diketahui identitasnya. Informasi yang ia dapatkan, sang pemilik ini sakit-sakitan.

“Lantas, melalui tetangga depan rumahnya bernama Pak Soni, si pemilik minta kirimkan pedang ini ke saya. Oleh Pak Soni, pedang tersebut dititipkan ke travel. Lalu dikirim ke saya,” tuturnya.

Sang pengemudi mobil travel ini, ia menceritakan, sempat khawatir membawa pedang tersebut ke Palembang. Mengingat pedang ini pedang pusaka, yang tentu memiliki aura gaib.

“Apalagi di mobil itu ada juga penumpang anak kecil. Takutnya nanti dia demam. Alhamdulillah, barang sampai di Palembang dan telah kami terima,” ucapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, pengemudi travel tidak menyebutkan siapa si pengirim, melainkan hanya menyerahkan nomor telepon saja.

“Kita ada staf di Lubuklinggau. Kita akan lacak identitas si pengirim untuk dibuatkan berita acara serah terima hibah,” tukasnya.

Kalau melihat bentuk dan ukiran, pedang hibah masyarakat ini merupakan pedang Palembang zaman Kesultanan Palembang Darussalam.

“Umurnya ditaksir sudah tua, barang lama. Mungkin zaman kesultanan. Ukurannya hampir semeter,” ujarnya.

Pedang diyakini sudah digunakan beberapa kali dalam pertempuran. Terlihat dari karatnya yang kemungkinan bekas darah.

“Pedang ini dibuat dari bahan yang bagus. Kemungkinan baja. Saya tidak tahu persis,” ucapnya.

Rencananya, kata dia, dirinya akan tugaskan staf untuk mengobservasi pedang pusaka tersebut dengan lebih detil.

“Saya ucapkan terima kasih kepada masyarakat, yang telah peduli dengan peninggalan-peninggalan sejarah. Barang tidak dikomersilkan. Dan dengan kesadaran sendiri menyerahkan ke museum,” ucapnya.

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Aufa Syahrizal Sarkomi, mengapresiasi masyarakat yang dengan kesadaran sendiri menyerahkan benda pusaka kepada museum.

“Pada prinsipnya, saya sangat bangga dan berterima kasih kepada masyarakat, yang semakin sadar akan keberadaan dan fungsi museum,” ujarnya, dihubungi kemarin.

Ia berharap kepada masyarakat yang memiliki benda-benda pusaka sarat cerita sejarah, untuk menyerahkan dengan sukarela ke museum.

“Daripada tidak terawat di rumah, lebih baik diserahkan ke museum untuk disimpan dan dirawat oleh tenaga ahli. Sehingga benda tersebut tetap terjaga, dan sekaligus akan menjadi cerita sejarah, yang akan menjadi tambahan pengetahuan bagi generasi muda,” ujarnya.

Namun, ia mengimbau masyarakat yang berkeinginan memberikan benda pusaka ke museum, agar menyertakan identitas yang jelas.

“Melalui ekspos berita ini, kita harapkan mereka memberi tahu, benda tersebut pemberian zaman kapan. Tujuan kita kan untuk mengetahui identitasnya. Pedang itu dibuat tahun berapa, zaman apa. Apalagi tadi disebutkan, pedang itu pedang Palembang,” ucapnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Kepala UPTD Museum Balaputra Dewa, Candra Amprayadi, yang begitu bersemangat dalam melestarikan dan mengembangan keberadaan Museum Negeri Balaputra Dewa. Sehingga sekarang museum ini semakin dikenal oleh masyarakat umum, maupun kalangan pelajar.

sumber: https://palpres.com/2020/06/museum-balaputra-dewa-dapat-hibah-pedang-pusaka-dari-warga-lubuklinggau/